WELCOME TO YOUTH OF SOLAGRATIA REREWOKAN SITE

RENUNGAN


 15 februari 2014

 Ketaatan Yusuf


Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. (Matius 1:24)

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes 4-5


Jika menuruti keinginan hatinya, Yusuf bisa saja pergi meninggalkan Maria, tunangannya yang sedang mengandung bukan karena berhubungan dengannya. Ia bisa punya banyak alasan untuk menceraikan Maria; orang tak akan menyalahkan keputusannya. Tetapi, ia tidak melakukannya. Ia tidak mengambil pilihan itu. Yusuf memilih untuk menaati perintah Allah, agar ia memperistri Maria selamanya. Ia percaya akan kata-kata malaikat Tuhan dalam mimpinya malam itu.

Sebuah keputusan yang jarang dan mungkin belum pernah diambil oleh seorang pria: mengetahui tunangannya hamil bukan karena perbuatannya dan tetap mempertahankan hubungan tersebut. Yusuf berani mengambil keputusan itu dan bersedia menanggung segala risiko yang pasti tidak mudah. Ia harus bertahan menghadapi gunjingan orang atas kondisi Maria yang hamil sebelum mereka menikah. Begitu menikah, ia sudah harus repot menjaga Maria dan mempersiapkan kelahiran bayinya.

Dalam hidup ini, tak jarang kita mengalami perkara yang tidak kita inginkan atau tidak pernah terlintas dalam pikiran kita. Bisa jadi kita harus ikut menanggung konsekuensi tindakan orang lain. Masih maukah kita mendengarkan dan menaati Tuhan untuk tetap tinggal dan menyelesaikan perkara tersebut sekalipun harus menghadapi risiko yang berat? Bukan sebuah pilihan yang menyenangkan dan mudah jika kita tidak mengerti rencana indah di balik perkara tersebut. Kita hanya bisa menyelesaikan dan melewati perkara itu dengan bersandar dan percaya sepenuhnya akan rencana indah-Nya.



KETAATAN KEPADA KEHENDAK ALLAH ADALAH RAHASIA
UNTUK MEMPEROLEH WAWASAN DAN PENGETAHUAN ROHANI.


Baca:  Ulangan 8:1-20


"Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji Tuhan, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu."  Ulangan 8:10

Negeri Perjanjian adalah negeri yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham dan keturunannya.  Negeri Perjanjian itu disebut Tanah Kanaan,  "...suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,"  (Keluaran 3:8).

     Tanah Perjanjian adalah gambaran tentang kehidupan umat Tuhan yang mengalami penggenapan janji-janji Tuhan.  Namun Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa tidak semua orang dapat memasuki negeri yang dijanjikan Tuhan itu, hanya mereka yang taat kepada firman Tuhan.  Sedangkan terhadap orang-orang yang tidak mau taat,  "...TUHAN telah bersumpah, bahwa Ia tidak akan mengizinkan mereka melihat negeri yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya."  (Yosua 5:6b).  Namun sebelum memasuki Tanah Perjanjian, bangsa Israel harus melalui perjalanan yang panjang dan proses demi proses: 
Mesir, padang gurun, Gilgal, sungai Yordan dan merebut kota Yerikho, di mana masing-masing tempat itu memiliki makna rohani.  Mesir berbicara tentang manusia daging:  kehidupan yang masih diperbudak dan dikuasai oleh keinginan daging.

    
Padang gurun adalah proses pembentukan bagi bangsa Israel.  Mereka dilatih untuk hidup berjalan bersama Tuhan dan memiliki ketergantungan penuh kepadaNya;  suatu masa di mana bangsa Israel diuji kemurnian hatinya.  Dalam proses ini mereka tidak pernah berhenti untuk mengeluh, mengomel, bersungut-sungut dan selalu menyalahkan Tuhan, padahal selama di padang gurun itulah hari-hari bangsa Israel dipenuhi dengan mujizat.  Tuhan menyatakan diriNya seperti Bapa yang begitu mengasihi dan memperhatikan anak-anakNya dengan kasih setia.

    
Gilgal:  tempat di mana bangsa Israel menyunatkan anak-anak mereka yang belum disunat selama berada di padang gurun  (baca  Yosua 5:5).  Setelah mereka selesai disunat, berfirmanlah Tuhan,  "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu. Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang."  (Yosua 5:9).  Ini berbicara tentang ditanggalkannya manusia daging, yaitu manusia lama.  (Bersambung)

 

 

 RENUNGAN HARIAN

3 JANUARI 2013

 

RAJAWALI JATUH

Tentang kesombongan, C.S. Lewis menulis, "Berhadapan dengan Allah,
manusia berhadapan dengan Sosok yang keunggulannya dalam segala aspek
tak tertandingi. Kalau Anda tidak melihat Allah sebagaimana
adanya-dan dengan demikian melihat diri Anda secara mutlak tidak
sebanding dengan Dia-Anda sama sekali tidak mengenal Allah. Selama
Anda sombong, Anda tidak mungkin mengenal Allah. Orang yang sombong
selalu memandang ke bawah, merendahkan orang lain dan segala sesuatu:
dan, tentu saja, selama Anda melihat ke bawah, Anda tidak akan dapat
melihat sesuatu yang ada di atas Anda."

Sikap semacam itu diperlihatkan bangsa Edom. Mereka membanggakan
kehebatan dan pengaruh mereka di tengah bangsa-bangsa lain. Mereka
memegahkan perbentengan yang tinggi dan kokoh. Mereka menyombongkan
kekayaan dan kemakmuran. Mereka mengandalkan persekutuan dengan
negara-negara sahabat. "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke
bumi?" pikir bangsa itu.

Mereka lalai; tidak memperhitungkan keberadaan Allah. Allah yang
sanggup meninggikan dan merendahkan bangsa-bangsa semudah membalikkan
telapak tangan. Terhadap bangsa Edom, Dia berfirman, rajawali pongah
itu akan dijatuhkan.

Kesombongan berkaitan dengan cara pandang kita terhadap Allah serta
siapa atau apa yang kita andalkan. Apakah kita menghormati Dia
melalui sikap, ucapan, dan tindakan kita? Manakah andalan kita: diri
sendiri, keunggulan yang kita miliki, atau Allah? Kiranya kita
dijauhkan dari keangkuhan Edom dan belajar merendahkan diri di
hadapan Allah -ARS


KESOMBONGAN MENDATANGKAN KEJATUHAN


Obaja 1:1-7

1. Penglihatan Obaja. Beginilah firman Tuhan ALLAH tentang
Edom -- suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan
telah disuruh ke tengah bangsa-bangsa: "Bangunlah, marilah kita
bangkit memeranginya!" --
2 Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara
bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat.
3 Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang
tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi;
engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup
menurunkan aku ke bumi?"
4 Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali,
bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang,
dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, -- demikianlah firman
TUHAN.
5 Jika malam-malam pencuri atau perampok datang
kepadamu -- betapa engkau dibinasakannya -- bukankah mereka akan
mencuri seberapa yang diperlukannya? Jika pemetik buah anggur
datang kepadamu, bukankah mereka akan meninggalkan sisa-sisa
pemetikannya?
6 Betapa kaum Esau digeledah, betapa harta bendanya yang
tersembunyi dicari-cari!
7 Sampai ke tapal batas engkau diusir oleh semua teman
sekutumu; engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu.
Siapa yang makan sehidangan dengan engkau memasang jerat terhadap
engkau. -- Tidak ada pengertian padanya.

Ruang kesaksian

KISAH SUKSES : PDT STEPHEN TONG


9 Januari 1957, hari itu pergumulan jiwa saya begitu berat. Menentukan apakah saya seumur hidup akan menyerahkan diri menjadi penginjil atau tidak. Lima tahun sebelum itu saya sudah menyerahkan diri. Waktu itu saya berumur 12 tahun, dan berkata “Seumur hidup saya mau menjadi hamba-Mu, dan tugas utamaku adalah memberitakan Injil di dalam sejarah manusia untuk memenangkan jiwa kembali ke Kerajaan Tuhan”. Lima tahun kemudian, secara perlahan saya mulai tertarik oleh Komunisme, Atheisme, Evolusionisme, Dialektika Materialisme, dan filsafat-filsafat yang paling modern, dimana sebaya saya banyak yang tidak tertarik. Saya sangat tertarik dan mulai terkontaminasi. Dan akhirnya, saya mulai membuang iman Kristen.
Saat itu ada seorang pendeta yang unik datang ke Indonesia. Pendeta itu seumur hidupnya memanggil orang menjadi hamba Tuhan. Saya menghadiri retreat yang dipimpin oleh Pendeta tersebut untuk menyenangkan hati mama saya. Hari itu menjadi pergumulan paling berat selama tujuh belas tahun saya hidup di dunia. Meskipun khotbah Pendeta itu menyentuh, namun iman Kristen sudah saya buang. Hanya mama saya, yang sejak saya berumur tiga tahun telah menjadi janda, tetap setia mendoakan saya. Apakah saya harus kembali kepada iman yang menurut saya saat itu sudah kuno, sudah digugurkan oleh ilmu, sudah ditolak oleh orang modern. Saya tidak berani dan malu berdoa di kamar, karena banyak orang ikut camp. Maka saya berlutut di kamar mandi, diatas ubin yang basah. Saya berdoa, “Tuhan kalau malam ini ternyata Engkau hidup, panggil saya dengan kuasa-Mu. Jika saya tidak sanggup melawan-Mu, maka saya akan seumur hidup setia sampai mati. Jikalau tidak ada panggilan jelas dan ternyata Engkau tidak bicara pada saya, saya akan lolos dan seumur hidup tidak lagi mengenal Engkau”. Dengan air mata saya bergumul kepada Tuhan. Lalu malam itu saya ikut kebaktian. Ada peserta yang bicara, tertawa, namun saya diam, tenang dan serius. Saya mau melihat bagaimana Tuhan bekerja. Kursi seperti lebih keras dari biasa, suasana lebih dingin dari biasa, waktu lewat lebih pelan dari biasa. Atheismekah atau Theisme?, Pagankah atau Christian?, Komunismekah atau Kristen?, Evolusikah atau Creation? Ini adalah saat penentu. Disatu sisi ada orang-orang Kristen yang mencintai Tuhan, yang hidupnya sangat saya kagumi. Disisi lain, fakta mengenai filsafat-filsafat mutakhir juga tidak bisa saya tolak.
Pendeta yang berkhotbah bagi saya berteriak-teriak mewakili teriakan terakhir sebelum Kristen mati. Teriakan yang mewakili status sebagai antek-antek Imperialisme yang merampas kebebasan manusia berpikir dan mempelopori racun barat untuk membuka jalan bagi meriam Imperialisme. Dengan mata yang miring saya melihat dia dan dengan sikap pertarungan dalam hati untuk menentukan nasib saya seumur hidup. Khotbah hari itu adalah mengenai lima suara,
Suara pertama adalah suara Allah Bapa. “Siapa yang boleh aku utus”, Firman-Nya. Lalu jawaban dari Yesaya, “disini saya, utuslah saya”. Jawaban dari Tuhan Allah, “Saya akan mengirim engkau untuk memberitakan Firman yang tidak diterima oleh orang lain. Saya akan mengirim engkau pergi kepada bangsa-bangsa yang keras hati”. Wah ini paradoks sekali, tetapi kelihatan ada makna tertentu yang saya perlu pelajari lagi.
Suara kedua adalah suara Anak Allah yang berkata “Tuaian sudah masak, pergilah menuai sebelum waktu lewat dan pergi ke seluruh dunia kabarkan Injil jadikan segala bangsa muridku”. ini suara dari pada anak Allah,
Suara ketiga adalah suara Roh Kudus diambil dari wahyu, mengenai barang siapa yang rela meminum air hidup akan diperanakkan pula, karena Injil adalah kuasa Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya.
Suara keempat adalah suara Rasul. “Jikalau aku tidak mengabar Injil, celakalah aku”, kata Paulus. karena beban ini sudah diberikan kepada aku dan jika aku dengan rela mengerjakannya ada pahala bagiku, rela, terpaksa, terpaksa, rela, aku harus rela memaksa diriku untuk melayani Injil atau aku harus memaksa diri untuk rela melayani?, ini paradoks lagi.
Suara kelima adalah suara dari Neraka. ini yang membuat saya sangat terkejut. Saya tidak pernah mendengar ada suara pekabaran Injil dari neraka. Siapapun pendeta tidak mengkhotbahkan dari neraka ada orang memanggil manusia mengabar Injil. Dia mengambil ayat dari Lukas 16. Abraham disuruh mengirim orang pergi memberitakan Injil kepada saudara orang kaya yang dihukum, supaya mereka tidak datang ke neraka. Abraham mengatakan bahwa hal itu tidak bisa. Yang kaya mengatakan kalau Abraham meminta lazarus yang pergi, mereka akan percaya. Ini adalah strategi penginjilan dari neraka. Saran neraka, suara neraka, strategi neraka pakai mujizat orang akan percaya. Sekarang di dalam Kekristenan ada dua arus. Yang menekankan Firman dalam penginjilan, dan yang menekankan mujizat. Banyak pendeta sudah jatuh dalam takhyul, tanpa pakai mujizat tidak akan ada orang yang menerima Firman Tuhan. Abraham diminta kirim Lazarus, kalau kirim Billy Graham percuma, mereka tidak ada mujizat. Kalau Lazarus yang berkhotbah karena dia sudah bangkit daripada kematian, maka lima saudaraku menjadi percaya. Saran ini terlihat amat bagus, namun bukan strategi Tuhan. Kesulitan sekarang adalah pemimpin gereja tidak peka lagi strategi dari Tuhan. Ide yang disarankan dari neraka ditolak oleh Abraham, karena sudah ada Firman dalam dunia. Dialog berhenti, diskusi strategi antara neraka dan surga berhenti disitu, Alkitab tidak meneruskan lagi. Lalu kita melihat selama 2000 tahun penginjilan dilakukan ke seluruh dunia, melalui apa? Strategi sorga atau nereka?
Mujizat terbesar adalah melalui percaya kepada Yesus Kristus, orang berdosa bertobat, orang yang mati rohani dapat hidup kembali dan menjadi anak Tuhan yang jujur dan setia. Setelah mendengar khotbah itu, Roh Kudus bekerja dalam hati saya. Saya mulai bereaksi. Man is not what he thinks, man is not what he feels, man is not what he behaves, itu semua psikologi dunia yang kosong. Man is equal to what he reacts before God. You will be counted in eternity as what you react to God, when you’re living in this earth. Saya harus bagaimana bereaksi kepada Tuhan, akhirnya dapat suatu suara yang sangat dahsyat dalam hati. Kalau engkau tidak mengabarkan injil, maka engkau lebih kalah dari orang di dalam neraka, orang yang jatuh di dalam neraka masih mengharapkan saudaranya diselamatkan. Meskipun strateginya salah, tetapi keinginan mereka supaya saudara sekandung mereka diselamatkan lebih besar cinta daripada engkau yang tidak mengabarkan injil. Teguran yang dahsyat ini membuat saya sadar, dan akhirnya air mata mengalir terus, sampai pakaian depan semua basah kuyup. Saya berkata Tuhan ,” Hari ini saya janji, seumur hidup menjadi hamba-Mu, mengabarkan Injil, dan setelah Tuhan menjawab semua pertanyaan saya, mengenai Evolusi, mengenai Atheisme, Dialektical Materialisme, Komunisme, saya akan ke seluruh dunia menjawab pertanyaan, kesulitan yang menghambat orang lain menjadi orang Kristen. Apologetika yang melayani penginjilan,dan teologi Reformed yang solid, menjadi satu senjata di dalam tangan saya untuk pergi menjelajah.
Sekarang sudah 51 tahun saya sudah pernah berkhotbah kepada kira-kira 30 juta manusia di dalam lebih dari pada 29 ribu kali kebaktian. Menjelajah kira-kira 600 kota di dalam 51 tahun. Dalam usia 68, saya masih naik kapal terbang satu tahun 300 kali, berkhotbah 500 kali, dan diantaranya kira-kira 40 hari minggu di Indonesia, negara yang saya cintai. Bagaimana beratpun, tetap harus menginjili. Kekristenan harus malu, karena bioskop mainkan cerita fiksi, namun tiap hari terus main. Gereja yang menyatakan kebenaran, tidak tiap hari mengabar Injil. Kepada Tuhan kita menyembah , kepada sesama saling mengasihi, kepada dunia kita menginjili. Jikalau gereja tidak menginjili lagi, maka fungsi eksistensinya berhenti dalam dunia ini. Itu sebabnya gerakan Reformed Injili diadakan, untuk memberitakan Firman yang berbobot, berkualitas, dan yang setia kepada Alkitab ke dalam, serta mengabarkan Injil yang murni dan setia keluar.
Apakah hari ini kita masih berbeban untuk penginjilan? Waktu di London tahun 1977, saya melihat satu iklan di muka sebuah bioskop mengenai pertunjukan berjudul Jesus Christ superstar. Tertulis dibawahnya sudah tahun ketujuh, tiap hari dipentaskan. Satu tahun 365 hari, tujuh tahun berturut-turut melawan Yesus dengan nama Jesus Christ superstar. Pementasan yang memfitnah Yesus adalah homoseks, maka semua muridnya laki-laki. Akhirnya seorang murid yang paling cinta pada Dia dan tidak berhasil mendapat cinta-Nya, menjual Dia dengan 30 uang perak. Film yang begitu rusak, yang demikian memfitnah Kekristenan, bisa main selama tujuh tahun dan tiap hari ada penonton. Adakah gereja yang berani mengatakan Jesus Christ is the true saviour of the Lord, setiap hari mengabarkan injil selama tujuh tahun?
Kita harus sedih, karena gereja yang mengabarkan Injil murni, Yesus Juru selamat, Kristus penanggung dosa, khotbah seperti ini sudah hampir hilang. Diganti dengan siapa percaya Tuhan akan mendapat mujizat, saya percaya Tuhan akan mendapatkan kesembuhan, saya percaya Tuhan akan menjadi kaya. Ini adalah teologi sukses, teologi berhasil, teologi makmur yang merajalela. Sedang teologi salib, teologi kebangkitan, teologi Kristus menjalankan hukuman mengganti manusia sudah hilang. Kita masih berani menamakan diri Kristen, pengikut Kristus, orang Injili, Alkitabiah.
Begitu banyak pemuda pemudi yang kita panggil, kemudian mereka mulai mengabarkan Injil. Namun setelah lulus dari sekolah teologi mereka menjadi tidak mengabarkan Injil. Saya sudah teriak ini di benua-benua yang lain berapa besar hukuman yang akan ditimpakan pada rektor-rektor dan dosen-dosen Teologi yang menjadikan orang yang suka mengabarkan Injil setelah belajar empat tahun menjadi tidak suka mengabarkan Injil, jangan melarikan diri dari teguran seperti ini karena orang yang menegur seperti ini, seperti apa yang kamu dengar hari ini sudah semakin sedikit. Kita mengutamakan yang bukan diutamakan oleh Tuhan, dan kita tidak mengutamakan yang diutamakan oleh Tuhan.
Saya harap dalam sepuluh tahun Jakarta bertambah tiga ribu gereja. Dan satu gereja kalau ada seribu orang, tiga ribu gereja baru tiga juta, sedangkan PBB menghitung Indonesia, ibukotanya setiap tahun paling sedikit tujuh ratus – satu juta manusia tambahnya, di dalam sepuluh tahun Indonesia dengan ibukota yang kira-kira lima belas juta manusia, sampai dua puluh juta manusia, berarti orang yang tambah di Jakarta sampai 2025 bisa tiga puluh juta, kalau sepuluh tahun tambah tiga juta, kita masih hutang, tetapi pendeta-pendeta di gereja tidak hitung, mereka hanya hitung di gereja saya dulu tiga ratus sekarang lima ratus. Puji Tuhan, berarti sudah bertumbuh. Pertumbuhan itu dihitung persentasi berarti itu membuktikan kita masih belum mengerti kehendak Tuhan. Kita melihat, kalau bankir-bankir melihat perkembangannya mengikut pasaran berapa persen dia tahu, tapi pemimpin Kristen tidak sadar. Pendeta- pendeta menggembalakan satu juta orang Kristen di Indonesia, sudah dua puluh tahun, seluruhnya digabung tambah dua ratus ribu sudah senang, tapi penduduk tambah sepuluh juta. Yang menginjil tidak banyak, pertumbuhan makin merosot, inikah Kekristenan? Penginjilan yang dilakukan oleh saya sekarang mungkin mendapat tantangan lebih banyak, karena saya sudah mendirikan gereja. Namun dukungan tidak pernah dari manusia, dukungan selalu dari Tuhan. KKR yang saya pimpin tidak pernah menaruh alamat gereja saya, tak pernah umumkan kebaktian saya, karena penginjilan adalah untuk sekota. Dan setelah selesai, masing-masing bebas pergi kemana saja, karena penginjilan bukan bermotivasi menambah anggota saya. Kita menginjili zaman kita, kota kita, bukan untuk mempekembangkan diri kita.
Saudara-saudara saya harap selama saya masih hidup, boleh terus memberitakan Yesus Kristus sungguh-sungguh Juru Selamat. Dia betul-betul Anak Allah, yang diwahyukan dan dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama. Dia yang menggenapi semua janji bagi umat manusia, dan satu-satunya penanggung dosa manusia. Dia satu-satunya yang mati bukan karena dosa sendiri, namun untuk menanggung dosa manusia. Dia satu-satunya yang bangkit daripada orang mati, karena kuasa-Nya melampaui kuasa maut dan kuasa dosa. Selain Dia, tidak ada juru selamat yang lain. Terakhir kali kita mengadakan KKR di Stadion Utama adalah tahun 2003. Saya mengundang Bapak Agus Lai menjadi ketua. Saat itu saya ditegur oleh Tuhan, karena sebelumnya dua kali tema KKR saya adalah “Apakah ini makna hidupku?” dan sebagainya. Akhirnya suatu teguran dari Tuhan, kenapa tidak berani langsung katakan Yesus Juru selamat? Kenapa engkau harus pakai cara supaya menarik lebih banyak orang?, maka tahun 2003 saya mengatakan, temanya adalah “Yesus Kristus Juruselamat Dunia”. Saudara-saudara, biar Injil dikabarkan, saya hanya mau kita berdoa bersama, supaya kehendak Tuhan yang jadi, nama-Nya dipermuliakan, kerajaan-Nya tiba, kehendak-Nya terjadi, karena semua kuasa, kerajaan dan kemuliaan hanya dimiliki oleh Tuhan. Amin.

 

 

RENUNGAN PAGI: "KETIKA TUHAN MENJADI PENDENGAR"



Mrk.10:46-52;


“Banyak orang ingin menjadi pembicara ulung
daripada pendengar yang setia”


Renungan hari ini lebih sebagai sebuah pengajaran daripada sederet kata-kata indah dan sejuk di hati yang mengajakmu untuk bermenung. Akan tetapi, semoga dengan cara ini pun Anda mampu merenungkan tentang apa yang Anda telah buat dan sedang buat saat ini dalam hidup dan  dalam doa-doamu.


Banyak orang terlalu yakin bahwa hanya imanlah yang dapat menyelamatkannya sehingga mengabaikan peranan perbuatan. Salah satu ayat yang mereka gunakan untuk membenarkan diri dan keyakinan mereka adalah apa yang tertulis dalam bagian terakhir dari Injil hari ini ketika Yesus berkata kepada Bartimeus; “Pulanglah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Mengajakmu untuk berdiskusi dan berdebat dalam renungan pagi ini tentunya bukan hal yang bijaksana, tetapi sekedar mengingatkanmu bahwa si buta Bartimeus harus menahan rasa malu dan marah ketika orang-orang di sekitarnya memaksannya untuk diam tapi ia terus berteriak; “Jesus, anak Daud, kasihanilah aku.” Banyak orang lupa bahwa si buta Bartimeus harus berdiri dan berjalan dalam kebutaannya untuk mendapatkan Yesus. Dengan dua hal itu saja, Anda sudah bisa diyakinkan bahwa Anda sedang meyakini sebuah ajaran indah dari Gereja yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik, bahwa sesungguhnya iman bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan sebuah daya kekuatan yang selalu menggerakkan kita untuk bukan saja berteriak, ‘Tuhan, kasihanilah aku, tapi kita pun harus berdiri, berjuang berjalan kepada Yesus seperti Bartimeus.


Hal lain yang pantas direnungkan dalam bacaan Injil hari ini yakni banyak kali dalam doa-doa kita kecenderungan untuk memerintah daripada pasrah pada kehendak Tuhan kita lakukan. Lagi, pengalaman si buta Bartimeus dijadikan sebagai dasarnya; Bartimeus bilang; “Tuhan, aku ingin melihat.” Akan tetapi, orang lupa bahwa jawaban Bartimeus muncul sebagai reaksi atas permintaan Yesus; “Apa yang engkau mau aku perbuat untukmu?” Banyak orang tergoda untuk memanfaatkan “diamnya Tuhan” untuk berbicara banyak dan mengatur Tuhan mengikuti kehendak mereka, daripada berdiam diri bersama-Nya dan membiarkan Dia berbicara di kedalam hati mereka. Sta. Faustina, rasul kerahiman Ilahi mengingatkan kita akan hal ini ketika ia berbicara tentang sikap para imam tidak bisa menampakkan ketenangan di dalam hidup dan pelayanan mereka. Ia berkata; “Imam yang tak memiliki ketenangan, tidak akan mendatangkan ketenangan bagi jiwa yang meminta nasehat kepadanya. Hai para imam! Kamu seperti lilin yang bernyala, kamu yang memberi terang kepada jiwa-jiwa, semoga cahayamu tak pernah suram.” Peringatan orang kudus ini hanya mau mengatakan bahwa “ketika kita banyak berbicara maka kita tidak akan pernah membiarkan Tuhan berbicara di dalam hati kita, atau kendatipun Ia berbicara maka kita tidak akan mampu mendengarkan Dia dengan baik.” Dengan kata lain, ketika kita banyak berbicara di dalam doa kita, maka kita akan membiarkan Tuhan diam seribu bahasa karena Ia harus merelakan Diri-Nya menjadi seorang pendengar setia dari kita yang sedang berbicara.


Oleh karena itu, bila Anda memiliki kesempatan hari ini untuk diam, maka baiklah datang ke hadirat Tuhan, menenangkan jiwa dan raga untuk membiarkan Tuhan berbicara kepadamu. Aku yakin bahwa bila pun Ia tidak bisa berbicara karena harus mendengarkan keluh kesahmu, maka Tuhan pun rela untuk menjadi pendengar ketika engkau sedang berbicara banyak hari ini kepada-Nya. Iya, banyak kali kita membuat Tuhan menjadi pendengar daripada pembicara. Dan sungguh sangat terpuji bahwa Tuhan pun mau menjadi pendengar bagimu.


 

MEMPERHITUNGKAN RECANA TUHAN

 

Renungan Alkitab (2Sam 15:13-14,30; 16:5-13a) .

 

Renungan AlkitabPada masa tuanya, Daud mengalami kesusahan seperti yang dialami banyak raja lain di dunia. Absalom, anaknya, memberontak. Dengan terpaksa, ia dan seluruh pegawainya harus melarikan diri. Digambarkan, perjalanan itu sungguh-sungguh penuh derita: Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut ... Derita itu bertambah lagi ketika ia dan rombongannya sampai di Baharim, tempat tinggal kaum keluarga Saul yang digantikannya. Simei bin Gera, salah satu dari keturunan Saul melempari rombongan Daud dengan batu sambil terus mengutuknya. Abisai, yang menyertai Daud tidak bisa tinggal diam. Dia minta ijin Daud untuk membunuh Simei, tetapi tidak diijinkan.

Sikap Daud ini menarik. Dalam situasi sesulit itupun tidak kehilangan kematangan kebijaksanaannya. Pertama, dia tahu betul kalau membunuh Simei hanya akan menambah masalah bagi rombongan pengungsi yang sedang terdesak. Kedua, Daud menyadari bahwa tidak semua orang (bahkan termasuk anaknya sendiri) menghormati dan bersimpati kepadanya. Kesalahan atau keputusan pada masa lampau bisa saja meninggalkan bekas kebencian pada orang lain.

Ketiga, sikap iman yang patut kita teladani: Daud memandang semua yang terjadi dalam terang imannya kepada Tuhan. Sebelumnya, Tabut Perjanjian ikut dibawa dalam rombongan pengungsian itu. Tabut Perjanjian mempunyai makna sangat penting untuk legalitas dirinya sebagai raja pilihan Tuhan. Namun Daud berpandangan lain, ".. Jika aku mendapat kasih karunia di mata Tuhan, maka Ia akan mengijinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi." Begitu juga kepada Simei yang terus menerus mengutuk ia hanya berkata, "... biarlah ia mengutuk. Sebab apabila Tuhan berpesan kepadanya: Kutukilah Daud, siapakan yang akan bertanya ..."

Rupa-rupanya, setelah melewati sekian panjang sejarah hidupnya, Daud sampai pada keyakinan: Tuhan selalu berperan, Ia selalu mempunyai rencana tertentu atas hidupnya. Dia tidak bisa menganggap kehendak Tuhan itu angin lalu saja, atau melawannya. Daud telah beriman secara dewasa. Rancangan Tuhan kendati tidak enak untuk dijalani adalah yang terbaik. Melawan berarti menjerumuskan diri kepada kesesatan.

Dalam kehidupan nyata, kesusahan, cemooh, derita (seperti yang dialami Daud) adalah hasil logis dari kesalahan kita sendiri. Menanggungnya dengan sadar, rela dan sabar adalah sikap yang benar terhadap rencana Tuhan. Mungkin Ia memang menghendaki kita merasakan itu agar menjadi lebih dewasa, tidak ceroboh, dan lebih hidup dengan sikap yang benar.

"Mungkin Tuhan akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan Tuhan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini."Amen.....
 
MUJIZAT YANG TERBUKA

baca:  Markus 10:46-52

"Tanya Yesus kepadanya: 'Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?' Jawab orang buta itu: 'Rabuni, supaya aku dapat melihat!'" Markus 10:51

Selama berada di bumi Tuhan Yesus tidak pernah berhenti bekerja.  "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yohanes 5:17), dan Ia pun menambahkan, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." (Yohanes 4:34).

     Suatu ketika Tuhan Yesus berada di kota Yerikho bersama dengan murid-muridNya, dan orang berbondong-bondong mengikutiNya.  Mengapa? Karena mereka tahu bahwa di mana ada Tuhan Yesus di situ pasti terjadi mujizat!  Dan keberadaan Tuhan Yesus di situ di dengar pula oleh Bartimeus, seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan.  Di zaman dahulu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pengemis hanyalah mengemis atau mengharapkan belas kasihan dari orang lain, tidak lebih.  Itulah sebabnya banyak orang memandang mereka sebagai orang yang rendah dan hina.  Bartimeus, meski buta, memiliki pendengaran yang peka.  Itulah sebabnya ketika mendengar bahwa Tuhan Yesus sedang melintas, berteriaklah ia,  "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" (Markus 10:47).  Ini menunjukkan bahwa secara jasmani Bartimeus tidak dapat melihat, tapi 'mata rohani' terbuka sehingga ia dapat melihat bahwa Tuhan Yesus adalah Pribadi yang berkuasa, Dia adalah Sang Pembuat mujizat.  Bartimeus pun bertindak dengan iman dan berseru kepadaNya.  Lalu Tuhan Yesus mengulurkan tanganNya menjamah Bartimeus dan mujizat pun terjadi, terceliklah matanya yang buta!

     Banyak orang Kristen yang meski mata jasmaninya melihat, masih saja buta 'mata rohani' nya sehingga mereka masih saja tidak percaya kepada kuasa Tuhan dengan berkata, "Sanggupkah Tuhan menolong aku?  Sakitku apa mungkin sembuh?"  Kebutaan rohani ini juga dialami oleh Gehazi sehingga Elisa pun berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat. Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa."  (2 Raja-Raja 6:17).  Kuasa Tuhan Yesus tidak pernah berubah, dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya!

AMIN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar